Bertahun-tahun yang lalu saya cukup aktif dalam beberapa aksi gerakan mahasiswa, bahkan pernah suatu hari marching untuk mengadakan demontrasi. Saya dan beberapa teman wanita lainnya (hanya sekitar 4 dari sekian ratus orang) berdiri paling depan memegang spanduk petisi. Kegiatan ini kontan mendapat reaksi keras dari keluarga dan juga gembala apalagi ketika foto kami masuk koran. “Orang Kristen tidak boleh protes melawan pemerintah itu melanggar Firman Tuhan” demikian kata gembala saya.
Ironis sekali ketika bertahun-tahun kemudian di Korea ,kami bekerja sama dengan salah satu gereja yang senior pastornya telah 12 kali keluar masuk penjara karena memimpin demo melawan pemerintah. Figure yang sangat dihormati baik di kalangan gereja maupun sekuler, beliau bahkan pernah menjadi penasihat presiden.
Tahun-tahun sebelumnya banyak pendeta dan pemimpin Korea yang subversive karena memperjuangkan hak-hak buruh dan juga migrant worker (termasuk yang illegal). Tidak heran jika saat ini Korea menikmati hasil dari para pejuang ini karena gereja dianggap sebagai people’s power yang terkadang memiliki absolute power terutama dalam hal kebijaksanaan yang berhubungan dengan masyarakat kecil. Peraturan terhadap migrant worker juga menjadi lunak dan berkompromi.
Sebagai contoh tahun 2002 seluruh illegal worker di Korea diberikan kesempatan untuk mendapatkan status legal jika mau melaporkan diri. Banyak diantara mereka yang tetap bekerja sampai sekarang dengan status legal. Pihak immigrasi kadang memberitahukan staff gereja jika aka ada razia pekerja illegal supaya waspada jika sekiranya ada jemaat yang illegal (Lucu kan?). Ini tidak lepas dari perjuangan pemimpin-pemimpin Kristen yang bukan hanya berkhotbah di mimbar tapi juga memperjuangkan hidup mereka yang minoritas dan lemah hukum.
Akhir tahun 2003 salah satu jemaat kami ditemukan meninggal menggenaskan di tempat kerja. Tidak ada kompensasi atau asuransi karena kematiannya tidak bisa dikategorikan sebagai kecelakaan kerja. Apa yang membekas dibenak saya adalah Pastor Korea itu memerintahkan bawahannya termasuk suami saya untuk menuntut perusahaan memberi kompensasi yang significant. “Orang ini tidak bisa pulang hanya dengan nama, dan keluarganya tidak boleh menerima hanya jasadnya. Dan kamu tidak boleh seharipun meninggalkan tempat duka ini. This is more important than preaching” katanya pada suami saya. Kami pun harus menunggui tempat duka selama kurang lebih satu bulan sampai pihak perusahaan menyetujui permintaan kompensasi itu yang langsung diberikan pada keluarganya di Indonesia.
Saat ini dimanakah peran orang Kristen di panggung politik? Apakah orang Kristen harus berani memperjuangkan nilai-nilainya atau berkompromi dan menjadi pemain di belakang layar? Apakah orang Kristen harus menjunjung the separation of state and nation atau sebaliknya : agama adalah Negara dan Negara adalah agama?
Banyak pemimpin Kristen konservatif memilih jalan damai, lebih baik mengadakan KKR dan penginjilan dan melupakan sama sekali peran ini. Posisi mereka yang tidak berpihak memberikan kesempatan Negara dipimpin oleh orang-orang yang liberal, tidak takut Tuhan, dan yang mengejar kepentingan pribadinya. Pada akhirnya yang akan menuai konsukuensi dari sikap ignorant ini adalah mereka yang kecil, yang pernah berbondong-bondong menghadiri KKR, telah diselamatkan tapi sayang hidupnya tidak menjadi lebih baik.
Baiklah untuk membuat tulisan saya ini singkat, ada 4 hal yangmenurut saya harus dimiliki oleh pemimpin Kristen :
1. Stand Up.
Pemimpin Kristen harus stand up memperjuangkan apa yang melenceng dari Firman Tuhan. Mereka harus berani untuk meyuarakan imannya tanpa terintimidasi menjadi tidak populer atau bahan ejekan. Banyak yang akan tidak setuju tapi ada lebih banyak lagi yang perlu untuk mendegarkan itu.
2. Integrity
Tentu saja sebagai pemimpin intergrity adalah karakter utama. Apa yang disuarakan harus koheren apa yang akan ia lakukan jika sendiri, saat tidak ada yang melihat dan menilai. Misalnya, pemimpin yang memperjuangkan family values juga harus memiliki keluarga yang harmonis sebagai contoh dan teladan. Keluarga bukanlah ‘off-limits’ dari seorang politician, seperti yang dikatakan Obama. Bagaimana seorang pemimpin memimpin biduk keluarganya adalah simbol dari bagaimana ia bisa memimpin kelompok yang lebih besar.
3. Eclectic
Seorang pemimpin Kristen haruslah bisa ‘embrace the diversity’, membawa kelemahan menjadi kekuatan dan perbedaan menjadi harmony. Seperti seorang konduktor yang dapat memimpin suatu orkestra yang terdiri dari berbagai alat musik dan banyak pemain menjadi suatu symphony yang indah.
3. Stick 2 the Mission
Pemimpin Kristen haruslah mereka yang concern dengan ‘mereka yang terkecil’. Mereka haruslah orang-orang yang tanpa lelah memperjuangkan kehidupan mereka yang miskin dan terbuang memiliki hidup yang lebih baik (better food, better eduation, better health, better future).
Pemimpin yang mengatasnamakan Tuhan tapi tidak hidup didalammNya adalah evil oppurtunist, yang mememanfaatkan agama untuk money and power. Pada akhirnya orang-orang seperti inilah yang membuat agama dilecehkan, dipermalukan , dan menjauhkan generasi mendatang bahkan lebih lagi dari iman mereka.
Tags: Leadership, Opinion, Politic
Saya duduk depan CNN tak bergeming untuk mengikuti Democrats Convention coverage. Exciting dan kadang mewek. Ngaco memang, karena saya bukan American bukan pula Political Analyst . Saya sampai bertanya-tanya dalam hati “what the hell these Americans brought speeches that make me cry?”
Kalau ditanya mengapa, barangkali beberapa dari mereka memberi inspirasi bagi saya pribadi. Saya bisa menghubungkan pikiran dan pengalaman saya sendiri dengan kehidupan , kepribadian dan pengalaman mereka.
Barrack Obama
There should be a fisrt person to make history, a first person to break the chain and he is Barack Obama! Calon presiden dari partai democrat ini saat ini dikenal sebagai ‘he gets all it takes to be an American President’ I a memiliki kepribadian, visi, kemampuan, skill, nilai hidup yang memberikan jaminan bagi setiap orang yang mencari perubahan bahwa hanya dialah yang bisa mewujudkannya.
Namun ada dua hal yang menurut saya hanya God Sovereign yang bisa memberikannya : karisma dan momentum. Semua element lain seperti pendidikan, kepribadian, karir, kerja keras, support bisa didapatkan seseorang dari bagaimana ia menjalankan kehidupannya namun karisma dan momentum tidak bisa di pelajari, tidak di wariskan, dan tidak didapatkan dari manapun di dunia ini.
Obama dikenal dengan karisma yang membuat orang jatuh hati. Karisma membuat skill nya berpidato menjadi lebih efektif. Karisma membuat kepribadiannya bersinar. Karisma membuat ia menjadi bintang . Karisma membuat orang terkesima dan mengikutinya.
Obama muncul seperti hujan setelah musim kemarau. Ia tampil ketika orang Amerika sudah muak dengan status quo. Ia datang memberi pengharapan ketika orang mengalami kejatuhan. Ia berjanji untuk memberi perubahan ketika setiap orang membutuhkannya. Inilah yang dinamakan momentum. Momentum ini datangnya dari Tuhan, Obama mengenal dan memanfaatkannya.
Obama juga memberi saya inspirasi bukan karena ia pernah tinggal di Indonesia dan punya saudara Indonesia. Namun karena ia mewakili kaum minority dan outcasted. Saya mengalami dan merasakan bagaimana menjadi minority dan outcast selama 8 tahun tinggal di Korea. Suatu hari, pada saat masa hamil yang kedua, saya bilang ke dokter yang merawat saya bahwa saya ingin melahirkan di Indonesia bukan di Korea. Ia kemudian bertanya “why? Is it about money?” (Perhatian, orang Indonesia selalu dianggap miskin, tak berpendidikan, pekerja kasar, pembantu rumah yang kebanyakan bekerja tanpa menggunakan otak dan dibayar murah).
“Tidak, saya tidak bisa ngurus dua anak sekaligus disini” jawab saya. “Tapi apa ada rumah sakit di sana?” Tanya dia sekali lagi. Entah mau marah atau tertawa dengar pertanyaan ini tapi saya menjawab“Of course and they are better than here” .
Saya juga merasakan selama 8 tahun sebagai orang asing, apa yang saya pikirkan, apa yang saya inginkan menjadi tidak penting. Sangat jarang saya bisa tampil untuk membuktikan “Look I’m Indonesian and I have a brain too”
Barak Obama memberi inspirasi bahwa tidak perduli apa latar belakang, warna kulit, ras, status social, bahwa kita juga bisa dipakai Tuhan untuk memimpin bangsa yang besar. Sebagai orang Kristen saya percaya pada kemampuan Tuhan memutarbalikkan kaidah kehidupan.
Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya. Isaiah 60:22
Obama Speech
http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/28/sot.dnc.obama.part1.cnn
http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/28/sot.dnc.obama.part1.cnn
http://edition.cnn.com/2008/POLITICS/08/28/obama.transcript/index.html
Michele Obama
Dalam pidatonya berbicara sebagai seorang ibu, istri dan ordinary person. Ia juga selalu tampil bersahaja, tidak membuat orang lain terintimidasi dengan luxury, fancy dan beauty jauh berbeda dengan gaya para Hollywood celebrity yang di idolakan Amerika.
Ia membuat saya merasa bahwa wanita tidak perlu secantik Angelina Jolie untuk mendapatkan perhatian seorang pria yang berkualitas. Ia juga memberi kesan bahwa yang terpenting pada seorang wanita adalah ‘inner beauty’ dan pria yang cerdas seperti Obama mengenal dengan baik kecantikan yang tersembunyi itu.
Dan sebagai seorang ibu rumah tangga yang setiap hari bergelut dengan anak-anak, piring kotor, kain pel, dan popok bayi saya tidak bisa melihat ada pengharapan yang lebih besar seperti ketika melihat Michelle tampil dengna kedua anaknya.
Michelle Speech
http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/26/michelle.obama.long.cnn
Joe Biden
Calon wakil presiden Partai Democrat ini waktu pidatonya mengungkapkan kisah pahit yang ia alami ketika kehilangan istri dan anak dalam kecelakaan mobil. Semua tahu bahwa Joe Biden bukan hanya poltician yang sukses dan berada di puncak karirnya tapi ia juga orang biasa yang telah melewati masa-masa sulit dan traumatik.
Tadi malam Nando berkata “nancy, not through happiness we gain wisdom but through difficult time. God brings you through the tough time for a greater purpose” and I couldn’t more agree with my husband..
Joe Biden Speech :
http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/28/sot.dnc.biden.entire.cnn
Bill Clinton
Presiden US untuk dua periode ini adalah Salomo modern yang membawa negaranya para era damai, prosperity, increase. Clinton meninggalkan office dengan good report $500 billion surpulus yang menurut beberapa kalangan adalah cadangan untuk 30 tahun. Pemerintahannya juga menghasilkan pertambahan pendapatan perkapita sebanyak $7500. Namun, ia juga memiliki kelemahan yang mejadikannya figure yang paling banyak menuai kritik. Kelompok Clinton Haters menyerang dengan kata-kata pedas dan mengkritik semua gerak-geriknya. Mereka mencemooh kejatuhannya dengan Lewinsky, caranya berbicara, sakit hatinya karena kekalahan Hillary, kegiatan charitynya, mereka bahkan mengejek karena ia telah tua dimakan umur.
Ini memberi saya palajaran bahwa kosekuesinya sebagai pemimpin kita ‘prone to critisism’. Tidak perduli apapun yang telah kita lakukan atau sukses yang telah kita bawa tapi people never get enough. Orang cepat sekali lupa dengan apa yang baik dari seorang pemimpin tapi apa yang jelek akan membekas di hati mereka. Leaders, they praise you and then nail you.
Bill Clinton Speech
http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/27/sot.dnc.clinton.entire.cnn
Hillary Clinton
I love Hillary. She inspired me. Memang selama kampanye ini Hillary mejadi less popular, banyak journalist dan media yang memuat liputan negatif tentangnya. Banyak yang salah kaprah dengan menerjemahkan confidence-nya sebagai arrogancy. After all, di Convetion she clarified all. Pidatonya yang mendukung pencalonan Barrack Obama menunjukkan bahwa ia bukan saja tough dan intelegent tapi juga tulus dan berhati besar.
Selama ini Ia hanyalah menerjang aral yang menghalanginya untuk melakukan apa yang ia anggap terbaik untuk negaranya. Saya mengerti, seorang wanita harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan equality. Seorang wanita harus benar-benar significant dan special sebelum dipercayakan menjadi pemimpin. Inilah yang dialami Hilary. Ia sudah biasa untuk berjuang dan menerjang untuk mendapatkan pengakuan yang sekiranya ia seorang pria pastilah tidak perlu usaha sebesar itu.
Hillary adalah First Lady Amerika pertama yang memiliki professional karir ketika masuk gedung putih. Ia juga first lady pertama yang mengantongi PhD. Meski memiliki independen karir, ia juga tidak lepas dari feminitasnya serta dedikasinya sebagai seorang istri dan ibu, dan bagaimana cara ia menghadapi perselingkuhan suaminya membuat saya tahu bahwa ia juga ‘believe in love’.
Saya bukan feminist tapi jika ada perjuangan untuk equality saya akan maju ke baris depan. Ada banyak alasan mengapa, salah satunya adalah gender stereotype yang melekat di keberadaban manusia selama ini. Pada waktu single, saya dikenal sebagai Nancy tapi setelah menikah saya dikenal dengna nama suami dan jabatannya : ibu Fernando, ibu gembala, pastor’s wife, Nando’s wife, Mama Joze, semua gelar yang membuat saya bangga, namun, come on, I am Nancy too. I am unique, God has special purpose for me .I ‘ve got my personal calling too. Di kalangan gereja, seringkali orang menanganggap saya satu paket dengan suami, ‘beli satu dapat dua’ istilahnya.
Puji Tuhan saya diberikan suami yang selalu mendukung saya mengejar panggilan dan memaksimalkan potensi (sekiranya masih ada yang tersembunyi). Seorang suami yang tidak terancam dengan ‘gaya’ istrinya, bahkan memberikan hightlight dan encouragement yang diperlukan. Seorang suami yang juga gigih mendaki ke puncak kehidupannya.
Pada saat melihat Hilary, saya merasa, ‘a woman can make it’. Tidak perlu menjadi cowboy untuk memimpin. Tidak perlu menjadi terminator untuk memenangkan hati orang. Tidak perlu kumis dan janggut untuk berkuasa. Dan tidak perlu otot untuk mencapai puncak.
She didn’t win the race, but Hilary indeed wins people’s heart.
Hilarry Speech
: http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/26/sot.dnc.hillary.clinton.unite.cnn
Full coverage of Democrats Convention
http://edition.cnn.com/ELECTION/2008/conventions/
http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/29/dnc.super.wrap.cnn
Bagi yang tidak percaya bahwa mujizat masih terjadi, well you’ re in the wrong boat!. Mujizat masih terjadi.
Namun, kalau mau jujur masalahnya bukan pada percaya atau tidak. Banyak orang sungguh percaya bahwa mujizat itu nyata hanya saja bukan untuk mereka. “Miracle is real but is it for me?”; “Miracle is not my stuff”; Miracle is a special case for special people”; “I am an ordinary person with ordinary problem”. Tanpa sadar itulah yang di pikiran kebanyakan orang.
Saat ini, manusia termasuk orang percaya tentunya , merasa bahwa mujizat hanyalah kasus khusus. Mereka merasa terlalu ‘ordinary’ untuk mengalaminya sendiri. Kecuali beberepa incident kecil, yang juga bisa dikategorikan kebetulan, manusia hidup dalam zona rata-rata ini.Tidak ada yang benar-benar ‘desperately’ berseru untuk mujizat jika tidak diperhadapkan dengan situasi tertentu.
Waktu saya berbagi beban tentang ayah saya yang sedang sakit, tanggapan orang adalah “kita berdoa biar kehendak Tuhan jadi” namun dalam kata-kata itu tersirat “apa sih yang diharapkan dari seorang tua yang sakit kanker, selain menunggu waktu di panggil Tuhan?”. Kebanyakan orang menganggap penyakit adalah biasa dan kematian tidak bisa dielakkan.
Namun, beban dan keyakinan yang Tuhan berikan dalam hati saya berbeda. Penyakit adalah biasa dan kematian memang tidak bisa dielakkan, tapi bagaimana dengan waktu dan caranya?
Ayah saya berusia 61 tahun yang menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya sebagai seorang akhoholik tapi sekaligus sebagai seorang dokter yang bertangan dingin dan banyak menolong orang. A good guy with a wrong belief. Ia telah lama meninggalkan iman masa mudanya, menjauhi gereja dan memendam kepahitan terhadap hamba Tuhan.
Dalam hati saya tidak rela jika ‘bondage’ ini, ketidakpercayaan, penyakit mematikan menjadi akhir hidupnya . Yang saya doakan adalah pertobatan, hidup baru, kelepasan, mujizat dan hidup yang menjadi saksi buat Tuhan. Itulah sebabnya akhir-akhir ini tulisan saya seperti deretan kata-kata yang tidak dimengerti. Memang saya sengaja bersembunyi dibalik kata-kata simbolik yang membuat saya aman mengungkapkan isi hati tanpa takut di nilai negatif, cengeng atau melankolik. Walau sebenarnya, dalam hati saya berharap ada yang mampu ‘read between the lines’ dan merasakan tension yang sebenarnya. Saya yakin orang yang memiliki emphaty semacam ini adalah mereka yang juga pernah mengalami situasi serupa.
Februari tahun ini, hasil CT scan menunjukkan bahwa ada ada tumor di perut ayah saya. Itu menjawab masalah anorexia (kehilangan nafsu makan), rapid weight loss dan kotoran yang berdarah yang ia alami beberapa bulan sebelumnya. Dua bulan kemudian hasil test selanjutnya menemukan bahwa tumor itu adalah malignant (ganas) menyebar lebih cepat dari yang diduga dan telah mengerogoti organ penting lainnya termasuk hati (liver).
Sebagai seorang dokter ia sadar bahwa penyakitnya terlalu serius untuk diobati dan memilih tinggal di rumah untuk menanti entah mujizat terjadi atau ajal menjelang. Kami sense bahwa kepahitan terhadap Tuhan dan gereja semakin intens dalam hatinya karena penderitaan ini.
Sebagai seorang hamba Tuhan, yang telah menyerahkan diri untuk melayani sejak remaja saya tidak mau menyerah. Tidak menyerah pada iblis yang telah dan ingin terus memporak-poradakan keluarga saya ini. Tidak juga menyerah kepadanya untuk merebut milik ayah saya yang terakhir: jiwanya!
Inilah yang menjadi beban doa saya bukan hanya sebagai anak tapi sebagai hamba Tuhan yang percaya dengan nature Tuhan yang saya layani sebagai: pengasih,penyanyang, pengampun, penyembuh penyedia. My life and ministry depend on these very nature of God.
Saya sadar bahwa ayah saya punya banyak pelanggaran dan dosa. But who is not? Siapa manusia yang tidak berdosa? Semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Sebagai seorang Kristen, saya pun hanya salah satu orang yang beruntung memperoleh anugerah keselamatan itu. Bukan karena perbuatan baik atau usaha lainnya tapi semata-mata karena anugerah.
Ketika dibalik pintu tertutup, dalam sepi dan kesendirian saya menaikkan doa dengan erangan pada satu lagi jiwa untuk kerajaan Allah dan jiwa itu kebetulan adalah ayah saya sendiri, Tuhan menjawab.
Ia menjawab bahwa penyakit itu hanya sementara dan akan keluar dalam bentuk kotoran. Ini adalah cara Tuhan melembutkan dan merendahkan hati ayah saya yang selama ini sangat keras.
Beberapa hari kemudian ayah saya mengalami bahwa ada kotoran asing yang keluar dari tubuhnya. Warnanya hitam dan kotor. Sejak itu ia merasakan perubahan, tubuhnya jadi semakin kuat, semangat hidupnya bangkit, nafsu makannya mulai kembali. Ia kembali bisa makan makanan yang ia inginkan setelah selama ini hanya makan satu dua sendok bubur dan minum cereal encer untuk mempertahankan hidup.
Bukan hanya tumor yang berhasil keluar dari perutnya namun spirit of alchoholism. Ia juga terlepas dari minuman keras yang telah mengikatnya hampir selama hidupnya.
Saat ini, hampir dua bulan berlalu. Cukup waktu ‘wait and see’ untuk menyaksikan mujizat Tuhan. Dari terbaring di tidur akhirnya beliau bisa berjalan,makan, mencuci, bersih-bersih, melanjutkan hobbynya memasak dan kegiatan lain dalam rumah. Berat badannya terus bertambah dan perutnya mengecil (sebelumnya seperti orang hamil). Ia juga tampak semakin religiuos dengan imannya pada Yesus Kristus.
Mujizat itu masih terjadi dan terjadi buat setiap pribadi yang mengharapkannya.
Tags: Family, Inspirational, Miracle, Personal
Setelah tiga bulan tinggal di Hong Kong akhirnya kami balik lagi ke Korea. Kedatangan kami di sambut oleh teriknya musim panas di bumi Morning Calm ini. Saya bolak balik gelisah, baju anak-anak sudah ditanggalkan namun di dalam rumah masih terasa seperti dalam oven. Meski ingin menghemat akhirnya toh AC window yang disimpan di gundang dikeluarkan juga. Musim panas di Korea sangat singkat, sehingga AC bukanlah suatu keharusan.
Ini pertama kali melalui musim panas di rumah yang kami tinggal sekarang dan dua bulan lagi kami juga harus pindah. Pindahan yang ke-5 dalam kurun waktu 6 tahun pernikahan kami.
Pindah rumah adalah hal yang paling melelahkan tapi entah kenapa harus selalu terjadi. Berhari-hari mengepak barang diikuti berhari-hari kadang bermingu-minggu lagi untuk menatanya.
Pada waktu tiba di Korea 8 tahun lalu saya tinggal di asrama. Setiap tiga bulan kami harus mengangkat semua harta benda kami dan pindah kamar, no excuse. Setelah menikah keadaan tidak juga jauh berbeda.
Bertahun-tahun hidup nomaden kami akhirnya belajar untuk hidup simple tanpa pernak-pernik. Kami sudah biasa meringkas barang-barang dengan menyimpan barang yang diperlukan saja. Harta utama yang harus kami pertahankan adalah buku-buku yang jumlahnya ratusan belum termasuk buku dan perlengkapan homeschooling Joel.
Membuang barang menjadi suatu keharusan. Meski setiap kali mengumpulkan barang untuk di buang hati saya tersayat menghitung jumlah yang telah kami keluarkan untuk membeli barang-barang tersebut, tapi di dalam hati juga ada perasaan plong karena beban jadi berkurang.
Boleh dikata barang milik kami tidak banyak tapi kalau lagi ngepak untuk pindah rumah atau berpergian saya sering ‘amazed’ dengan jumlahnya berjibun. Sekarang di tambah dengan barang milik anak-anak yang jumlahnya tidak kalah dari orang dewasa.
Pindah rumah ini juga selalu mengingatkan saya bahwa apapun miliki kita di bumi ini hanyalah sementara. Rumah yang dibangun ratusan bahkan miliaran rupiah tidak akan dimiliki selamanya. Apa yang menjadi harta kita yang yang kekal adalah apa yang sedang disediakan Yesus sekarang bagi orang-orang yang percaya. Disanalah tempat kita berada dari kekal sampai kekal.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yoh 14:2-3)
Tags: Children, Daily Life, Korea, Personal
Hari Selasa walau sudah larut, mertua saya, gembala Gereja Indonesia di Hong Kong yang berusia 60 tahun nekad ke Macau. Sudah seharian ia mengumpulkan barang-barang yang perlu dibawah untuk melengkapi keperluan rumah baru di sana. Bujukan kami agar ia menunda perjalanan sampai besok tidak digubrisnya.
“Besok aja berangkatnya Mi, kan hari ini sudah capek” kata kami khawatir karena beliau sering sakit akibat bolak-balik Hong Kong – Macau untuk pelayanan. Tidak bisa disangkal kalau hari ini juga beliau capek karena selain di rumah banyak tamu juga beberapa hari terakhir ikut membantu menjaga anak saya yang sakit.
“Ndak apa-apa, mumpung ada yang bantu angkat barang” katanya sambil melirik Martin dan kawan-kawan dari Guang Zhou yang lagi main di Hong Kong. Di manfaatin untuk angkat microwive bekas dan piring-piring (masih bekas juga), mereka cengengesan aja. Kami maklum dengan semangat dan sukacita Mami karena pelayanan yang dirintisnya di Macau sekarang sudah ada yang meng-handle diundang dari Indonesia, sebut saja namanya “A”. Itu berarti beliau bisa lebih berkonsentrasi di Hong Kong dan melayani permintaan pembukaan POS PI baru di sekitar New Territory.
Mami sering berkata betapa beruntungnya A karena semua sudah tersedia, jemaat dan tim pelayanan yang antusias yang menyambutnya bak dewa turun dari langit, rumah yang apik, dana Church Planting, jauh jika dibandingkan keadaan Mami waktu pertama kali dikirim ke Hong Kong.
Tidak pernah terlintas dipikiran kami atau di kepala manusia paling gila sekalipun ketika keesokan harinya (Rabu pagi), Mami menelpon saya di Hong Kong.
“Nancy..”katanya parau, bingung dan shock.
“Si A kabur!. Pagi-pagi kita bangun dia so ndak ada. Semua barangnya so ndak ada.”
“What! Masak sih, apa sudah cari di semua tempat, di kamar mandi, dapur, lemari, di guci-guci kosong? ” kata-kata ini masih di kepala saya belum dikeluarkan. Saya kira ini bercanda karena si A belum seminggu berada di Macau.
“Dia ada SMS pa salah satu jemaat bilang bahwa dia so pulang ke Jakarta” Mami menjawab pertanyaan yang belum saya ungkapkan..
“Oooooooooooh” hanya ini yang bisa keluar dari mulut saya setelah itu. Kalau tulisan ini berbentuk audio, Anda bisa mendengar getaran dan erangan dari kata itu.
“Aduh Mami bingung dan malu. Apa sih yang kurang? Apa ia tidak memperhitungkan Jemaat di sini yang antusias, mengasihi dia, bela-belain dia? ” diseberang sana suaranya terdengar menahan emosi.
Tidak sabar menunggu Nando yang baru tiba dari Seoul kemarin dan sekarang sedang menikmati Dimsum bersama salah satu teman pastornya . Gelisah menunggu walau hanya beberapa menit karena ingin sampaikan kabar ini. Sambil menunggu saya memukul-mukul jidat saya yang lebar sambil berkata “bego, bego, bego” (kebiasaan saya ini jangan ditiru ya..). “Why I am so stupid?”berulang-ulang saya bertanya dalam hati, takut di dengar orang dan menjadi konfirmasi buat mereka.
Saya melompat ketika melihat Nando datang, menariknya ke kamar dan berkata “Si A minggat!”
“Apa?” sambil melotot. Wajahnya jadi datar tanpa kata-kata.
“At least speak something” kata saya dalam hati. Sebagai wanita diam adalah ‘penyiksaan’. “Ayo ngomong, ngomel, marah-marah, be normal dong!” Karena sebagian besar ini adalah kesalahan saya. Sejak semula Nando sangat ragu untuk mengambil A dan istrinya tapi saya sering membujuknya.
“Ayolah, kasih mereka kesempatan”; ” Tuhan mau memakai mereka. Lupakanlah yang lalu-lalu.”; ” Orang kan berubah. Saya percaya selama 3 tahun ini mereka sudah belajar banyak hal.” ; “Mami juga sudah kenal dengan mereka berdua” Kata-kata ini sering saya ucapkan ke Nando waktu ia sedang sedang mempertimbangkan orang yang akan membantu pelayanan Mami di Macau.
Tanpa menghintung berapa kali kami disakiti dan dikhianati, kasih dan perasaan kami yang tulus menganggap mereka sebagai saudara sekandung membutakan hati kami.
Kemudian terjadilah kejadian ini! Ia MINGGAT. Tanpa sebab, tanpa masalah, tanpa penjelasan. Yang tinggal hanya kami yang kebingungan dan jemaat yang terluka.
Hari ini, saya minta maaf untuk kebodohan ini. Nando yang biasanya tegar dan tabah sangat terpukul dan malu. Yang ini sebagai puncak dari yang sudah-sudah. Lebih besar dari yang lalu-lalu karena sudah melibatkan banyak pihak. Sebagai pemimpin ia telah mempertaruhkan kedibilitasnya a karena mempromosikan si A.
“Apa yang lebih besar dari relationship, nama baik, privileges yang sudah diterima sehingga ia mau melakukan ini?” berulang-ulang Nando bertanya.
Dan saya masih terus memukul-mukul jidat sambil berkata “bego, bego, bego! Kita kok bego begini, Nyata sekarang bahwa ia bukan hamba Tuhan yang memiliki panggilan untuk melayani”
“Tidak, kita tidak bodoh” kata Nando menenangkan. Bukanlah bodoh jika kita berusaha untuk baik, mengesampingkan kepentingan pribadi dan memberi kesempatan kepada orang yang berulang kali melukai kita.
“Kita hanya tidak PEKA….!” kata Nando.
Tags: Daily Life, Personal
Dengan apakah aku bisa membuktikan keberadaan Tuhan? Apakah dengan Ilmu Pengetahuan, dengan pengalaman pribadi, dengan rasio atau bukti-bukti? Aku tidak memiliki sedikit pun dari yang dimiliki oleh jutaan orang percaya yang saat ini membaktikan hidup mereka untukNya. Aku hanyalah bagian kecil dari gerakan besar yang ada di muka bumi ini. Aku hanya kebetulan mengalami kemelut, pengalaman pahit, doa yang tertunda, tapi siapa yang tidak mengalaminya?
Jika timbul pertanyaan yang mempertanyakan kedaulatan Tuhan, keadilanNya, apakah aku cukup memiliki bukti dan pengetahuan untuk itu? Bukankah aku hanyalah satu dari orang kebanyakan, tidak lebih dari yang rata-rata. Disisi lain, aku juga hanya penerima hadiah yang tidak pantas mempertanyakan pemberinya berapa nilai hadiah tersebut.
Tanpa anugerah aku pun tidak akan pernah sampai pada tahap seperti ini. Siapa manusia dengan kepandaiannya sendiri dapat mengerti apa yang telah Tuhan lakukan dan dari situ timbul iman percaya? Bukankah iman sendiri adalah anugerah?
Betapa tidak pantas ketika aku mulai menuntut Penguasa untuk melakukan apa yang kuinginkan. Betapa kecil dan terbatasnya pikiranku jika mempertanyakan keadilanNya. Hidupku sendiri seperti rumput dipadang , sebentar tumbuh, kering, kemudian terbang ditiup angin. Singkat dan pasti akan berakhir.
Ia memberi dan Ia mengambil. Semua yang kupunya datang daripadaNya. Aku datang telanjang ke dunia ini dan akan meninggalkannya dalam keadaan yang sama. Dari tidak ada aku menjadi ada, untuk mengalami kasih juga kegetiran. Ah, betapa sejujurnya akupun ingin pergi dan meninggalkan tubuh ini. Bagianku telah aku lakukan walau tidak sempurna. Dan sekarang adalah bagianNya.
Tidak ada yang dapat menghindar dari akibat dosa yang telah menghancurkan bumi ciptaan ini. Mengapa harus ada kelahiran? Mengapa tersenyum untuk satu lagi jiwa yang lahir untuk merana? Bukankan kita harus menangis karena telah menarik satu lagi makhluk surga dari tempatnya yang indah untuk hidup bersama kita di bumi fana ini?
Sesungguhnya seorang bayi dilahirkan untuk menderita demikian seterusnya hingga ia dipanggil pencipta. Itulah sebabnya, hal pertama dilakukan seorang bayi adalah menangis. Menangis karena tanpa kehendaknya sendiri dilahirkan. Menangisi hari-hari yang harus ia lewati sebelum menjadi tua, sakit, dan kembali ke asalnya. Apa yang bisa dibanggakan manusia dari hidupnya?
Maafkan aku, anak-anakku. Walaupun kehadiranmu adalah kehendak Penguasa tapi akulah yang dipercayakan membawa kalian pada kefanaan ini. Dengan sekuat tenaga aku akan mengasihi kalian tapi aku tak dapat berjanji untuk bisa melindungi kalian dari penderitaan dunia ini. Walau aku berharap dengan kasihku aku dapat mengurangi beban yang harus kalian pikul.
Jika dewasa nanti semoga kalian lebih bisa mengerti apa arti hidup yang singkat ini. Mengapa kalian harus hadir. Melihatnya sebagai satu anugerah dan bukan hukuman.
Tags: Grace, Spirituality
Walau bumi terus berputar matahari terus bersinar, bulan dan bintang tidak kehilangan gemerlapnya aku tak mengerti ‘mengapa?’ . Walau roda kehidupan terus bergulir, business tetap berjalan, pasar modal terus dibuka, pekerja menerima upahnya dengan sukacita, aku bertanya ‘mengapa?’.
Walau bahu diusahakan bidang, kepala tegak dan bibir senyum; walau aku masih berdiri di mimbar untuk bersaksi dan berkhotbah; walau aku melihat wajah-wajah yang basah dengan air mata mendengar perbuatan-perbuatanNya; walau aku terus menerus menguatkan mereka yang lemah dan dalam kemelut supaya bertahan dan menang; walau aku terus berdoa untuk umatNya dan melihat doa itu dijawab meskipun mustahil karena memang mujizat masih terjadi; dan masih ada beribu ‘WALAU’ lainnya menandakan kehidupan di dunia masih berjalan seperti biasa.
Jari-jariku kapalan memetikkan gitar dan memencet tuts piano menyanyikan lagu mengatasi derita. Aku mengira dengan lagu dan penyembahan aku bisa lebih efektif mengungkapkan isi hati kepadaNya. Mataku yang bengkak tidak berhenti menelusuri Buku Penguasa mencari kekuatan, jawaban atau kemiripan cerita.
Entah apa yang dipikiran Penguasa ketika ia mempercayakan beban yang semakin lama semakin berat ini. Apakah aku kuat sekuat raksasa meskipun bodynya tidak lebih besar dari ukuran rata- rata. Atau karena aku perlu latihan khusus agar dengan ukuran ini otot-ototku bisa seperkasa Superwoman. Atau karena persediaan air mataku harus dikuras habis agar kolam penampungannya dapat dicuci bersih dan kalau perlu direnovasi agar bisa menampung lebih banyak air lagi. Mungkin juga aku harus dilatih untuk berdoa dan mengerang dalam sakit yang luar biasa agar bisa mengerti apa ’sakit’ yang sebenarnya.
Di mata Penguasa tidak ada hitung-hitungan ala penduduk bumi. Semua ada dalam dimensi kekekalan dan rencana global kerajaan. Meski beribu pertanyaan tapi tidak semua perlu jawaban dan tidak semua akan terjawab. Betapa kecilnya manusia dibanding dengan Penguasa yang memiliki titel “Berdaulat”. Betapa terbatasnya pikiran ciptaan ini sehingga tidak mungkin memahami apa yang dipikirkan Penciptanya.
Walau ada harapan agar Penguasa mengintervensi dan memutarbalikkan hukum alam, tak ada yang sanggup memaksaNya. Tak juga makhluk kecil penerima kasih anugerah yang dipungut dari yang terbuang. Dengan apakah ia akan menuntut Penguasa, apakah karena ketidakadilan di bumi ini yang sangat nyata, atau karena sikapNya yang seolah-olah tidak perduli sehingga kejahatan dan kehancuran ada dimana-mana? Sekali lagi hitung-hitungan ala penduduk bumi tidak berlaku bagiNya.
Meskipun isi hatinya terhadap penduduk bumi telah tertulis di dalam Buku-Nya, yang dipercayai cukup dan menyeluruh, tetap saja ada yang tinggal misteri karena disitupun tidak ada jawabannya. Tak seorangpun dapat bertanya mengapa ‘ia tidak mengerti’ karena jawabannya hanya ada di Buku Rahasia Penguasa.
Jika aku menghitung detik yang berlalu berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu demikian seterusnya, sekali lagi Penguasa tidak memakai cara hitung-hitungan ala Penduduk bumi ini. Jadi aku hapuskan saja prinsip aritmetika ini yang telah belasan tahun aku pelajari di sekolah. Semua tidak berlaku untuk memahamiNya. Alam ini fana dan meyesatkan, tidak bisa dipakai sebagai acuan atau ukuran. Bisa tertipu karenanya.
Sia sia semua usaha untuk mengerti Penguasa dengan alam yang diciptakanNya tapi tidak ditinggaliNya. Menaruh ciptaanNya dalam suatu system yang dinamakan ‘hukum alam’, tapi Ia sendiri tidak didalamnya. Tidak mengertilah dan bertanya-tanyalah, karena makhluk ciptaan kebingungan dengan cara kerja Penguasa yang ‘misterius’, kata yang khusus diciptakan untuk melukiskan betapa terbatasnya isi kepala manusia itu. Gagallah usaha manusia untuk memahami Rahasia Sang Penguasa.
Tags: Mistery, Spirituality
Coba bandingkan kehidupan Anda sekarang dengan lima tahun yang lalu:
Jika air matamu masih tercurah untuk masalah yang itu-itu juga tanpa ada penyelesaian, berarti Anda perlu untuk : ASK FOR MORE!
Jika Anda masih bergulat dengan tabiat buruk yang sama dan belum bisa mengendalikannya, ini tandanya Anda perlu : ASK FOR MORE!
Jika pekerjaan dan pendapatan yang Anda punya tidak mengalami kemajuan, tidak ragu lagi bahwa Anda perlu : ASK FOR MORE!
Jika Anda masih memiliki pelayanan yang sama tanpa menunjukkan buah-buah pelayanan, nyatalah Anda harus : ASK FOR MORE!
Jika pacarmu masih yang sama tanpa ada kata serius untuk menikah, jangan malu untuk : ASK FOR MORE! (LOL)
Jika kehidupanmu terasa membosankan, potensimu tidak berkembang, panggilan hidupmu tidak jelas, jangan tunda-tunda lagi untuk : ASK FOR MORE!
Jika ada mimpi yang belum terwujud, cita-cita yang kandas atau visi yang mulai pudar itu bangkitlah dan ASK FOR MORE !
Jika secara keseluruhan Anda tidak bahagia dengan hidup ini jangan tunggu lagi untuk : ASK FOR MORE!
Alasan mengapa engkau tidak mendapatkan adalah karena tidak meminta. Tuhan ingin agar anak-anaknya meminta supaya mereka bersukacita (Yoh 16:24).
Dan contoh yang Tuhan berikan untuk meminta kepadanya terdapat di Lukas 11:5-8.
Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
Seorang yang mendatangi rumah sahabanya untuk meminta roti. Karena sifatnya yang tidak malu ini, sahabatnya memberikan apa yang mintanya walaupun sebenarnya ia merasa terganggu. Sifat yang tidak tahu malu ini dalam NIV disebut ‘boldness’ atau keberanian.
Inilah tandanya jika permintaanmu jatuh pada kategori ini: jika orang-orang disekitarmu menganggap itu lucu, mustahil atau ‘malu-maluin’ . Atau jika Anda dicap sebagai tukang mimpi yang tidak tahu diri dan mengada-ada. Jika ini yang Anda alami maka itu juga yang Tuhan inginkan.
Tuhan ingin kita meminta sesuatu yang berani dan tanpa malu kepadaNya. Permintaan ini yang akan memberikan signifikasi status kita sebagai anak-anak Tuhan. Permintaan yang biasa-biasa untuk orang biasa tapi permintaan yang luar biasa untuk orang yang luar biasa.
Mintalah sesuatu yang di luar batasan-batasan kemampuanmu, karena jika Anda mampu maka Anda tidak perlu Tuhan. Lagipula itulah yang Tuhan inginkan bagi anak-anakNya agar mereka bisa mengembang ke kanan dan kekiri, dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Yes 54:2-4).
Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! 3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi. 4 Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu.
Anyway, permintaan kita bisa saja malu-maluin saking ‘gede’nya tapi sebenarnya kita tidak akan mendapat malu pada saat semua itu diwujudkan Tuhan. (Yes 54:4).
Tags: Character, Leadership, Self Help
Minggu lalu, saya, ibu mertua, anak-anak kami Joel (4) dan Mathew (1) mengadakan perjalanan dari Hong Kong menuju Macau. Kami akan mengunjungi gereja yang baru dirintis di Macau sekaligus mendapatkan perpanjangan ijin tinggal di Hong Kong.
Transportasi antara Hong Kong dan Macau hanya bisa ditempuh lewat laut dan memakan waktu sekitar satu jam. Tidak masalah, beberapa Ferry bermesin jet turbo tersedia setiap 30 puluh menit. Menumpang armada-armada ini tidak bedanya dengan berada di pesawat terbang karena kenyamanannya mengantar ratusan pelancong, commuter dan penjudi kelas dunia menuju Las Vegas Asia itu.
Namun, cuaca hari itu sangat buruk, hujan deras, kilat sambar menyambar, angin kencang. Sebagai informasi Hong Kong adalah kota yang cuacanya tidak bisa diprediksi, sesaat hujan lebat namun beberapa detik kemudian matahari bersinar cerah. Kota ini juga dikenal dengan bencana alam yang ekstrim terutama typhoon dan tanah longsor.
Hujan dan angin serta badai yang di lautan sangat ganas seakan tidak senang menyambut kunjungan pertama saya ke kota Macau. Kapal ferry tumpangan kami dihempas gelombang setinggi, oh God, I can’t describe it. Rasanya seperti sedang berada di jet coaster, permaianan yang paling tidak saya sukai. Bedanya jet coaster yang terdapat di Disneyland misalnya, hanya berlangsung selama lima menit dan semua penumpang tahu bahkan berekspektasi dengan turmoil buatan itu. Saat ini, tidak ada seorangpun yang memiliki keinginan lain selain dari menikmati perjalanan yang tenang dan damai serta selamat sampai tujuan.
Beberapa saat ombak membawa naik kapal kami naik dan detik berikutnya menghempasnya kebawa tanpa ampun. Para penumpang berteriak-teriak dan beberapa orang muntah-muntah. Saya sendiri pusing, mual dan ingin muntah juga namun berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengangis. Meskipun sebenarnya dalam hati perasaan takut, tegang, panik, tentu saja concern utama saya adalah kedua anak saya yang juga sangat ketakutan. Saya berdoa, berbahasa roh, bertobat, let God knows that I love Him, anything. Saya dan mami bergantian memeluk Joel dan Mathew erat-erat , berdoa dan menenangkan mereka.
Di tengah perjalanan tiba-tiba layar TV menanyangkan bagaimana cara mengenakan pelampung diperagakan oleh seorang model yang rapih, ayu dan lemah lembut. Yang dengan tenang, lambat, penuh senyum, menaruh penampung di lehernya seakan khawatir tatanan rambutnya rusak karena pelampung tersebut. “Iklan meyesatkan!” kata saya dalam hati. “Keadaan bahaya, penumpang panik, tidak akan setenang itu dan lagi ngapain senyum saat sedang terjadi evakuasi?”
“Percuma!” kata saya lagi, masih dalam hati dan kesal sekali. “Mengapa peragaan itu ditayangkan sekarang? Mengapa tidak dari tadi sebelum kapal berangkat? Dimana kaptennya mengapa tidak memberi kata-kata yang menenangkan? Mengapa kami tidak diberi tahu sebelumnya supaya siap sedia menghadapi disaster ini? Apakah ada cara untuk kembali? Kapan kapten akan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan atau kembali ke pangkalan? Kapan dan bagaimana proses evakuasi dimulai? Siapa yang akan menolong kami? Apakah di atas sudah ada helikopter yang sidap sedia? Dan bagaimana dengan Joel dan Mathew? Apa yang harus saya lakukan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya? Oh, God, is this the time?”
Pertanyaan-pertanyaan ini dan seribu pertanyaan berkecamuk dihati saya. Sampai akhirnya kami tiba di Macau setelah satu setengah jam diombang-ambing gelombang dan dihempas badai. Semua lewat, badai mungkin tidak seburuk yang saya kira. Kapal tidak tenggelam dan kami selamat.
Namun, saya belajar dua hal. Pertama, Be ready for the unpredictable!. Kata orang kita harus siap sedia bahkan untuk kemungkinan terburuk. Prediksikan hal-hal tidak terprediksi. Kesiapan dan informasi membuat kita lebih tenang dan berpengharapan. Kedua, pelajari prosedur keamanan. Seringkali ketika pramugari memperagakan prosedur evakuasi, para penumpang pesawat memalingkan wajah, pura-pura tidur, baca koran, seakan-akan itu adalah pertunjukkan yang paling membosankan dan sangat tidak diharapkan. Sang pramugari juga tahu bahwa peragaannya tidak diinginkan sehingga sering melakukannya dengan asal-asalan dan secepat mungkin meyelesaikan tontonan konyol tersebut. Padahal, jika situasi bebahaya itu tiba tidak ada seoragnpun yang memiliki waktu untuk belajar.
Hidup kita juga sering mengalami badai, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang bisa diprediksi dan ada yang tidak. Penuhi diri kita dengan informasi dan prosedur penyelamatan jauh sebelum semuanya terjadi. Salah satu sumber informasi yang paling andal adalah Firman Tuhan. Misalnya, Tuhan berkata barangsiapa yang mengikut Yesus harus memikul salibnya, membuat setiap orang Kristen harusnya tahu bahwa kekeristenan tidaklah semata-mata kekayaan, kemakmuran, hidup penuh berkat, bebas dari setiap masalah. Prediksikan masalah, penolakan, pengkhianatan, kegagalan, sakit penyakit dan kematian. Kita tidak akan luput dari hal-hal yang demikian. Menjadi Kristen adalah menjadi manusia biasa yang memiliki Tuhan yang luar biasa.
